Masyarakat kota Medan keluhkan gelombang panas


Gelombang panas adalah kondisi cuaca yang ditandai dengan suhu udara yang sangat tinggi

dan bertahan dalam jangka waktu yang relatif lama. Gelombang panas biasanya terjadi pada

musim panas ketika sinar matahari yang kuat memanaskan permukaan bumi dan udara di

atasnya. Hal ini menyebabkan suhu udara di sekitar kita naik secara signifikan, bahkan bisa

mencapai suhu yang sangat tinggi, terutama di daerah-daerah yang berada di dataran rendahdan lembah. Gelombang panas biasanya terjadi di musim panas dan dapat mempengaruhi

kesehatan dan kesejahteraan manusia serta hewan.

BMKG juga menyebutkan bahwa gelombang panas dapat mempengaruhi kesehatan manusia

dan hewan, terutama pada mereka yang berada pada kelompok rentan seperti anak-anak,

orang tua, dan orang yang memiliki penyakit tertentu.

Gelombang panas dapat menyebabkan dampak negatif pada tubuh manusia, seperti dehidrasi,

kelelahan, sakit kepala, mual, dan bahkan kejang. Selain itu, kondisi ini dapat memperburuk

penyakit yang sudah ada, seperti penyakit jantung, asma, dan diabetes. Dalam beberapa

waktu ini banyak negara di dunia yang menghadapi gelombang panas secara ekstrem.

Suhu panas yang terjadi di Kota Medan ini dikatakan Martha Manurung, akibat kuatnya

angin Barat yang menyebabkan sulitnya pertumbuhan awan serta kelembapan suhu yang

rendah. "Kondisi seperti ini diakibatkan kuatnya angin baratan yang bersifat divergen di

wilayah Sumatera Utara, Sehingga awan-awan hujan sulit terbentuk ditambah kelembapan

udara yang rendah 60-70 persen.

Eridawati menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan suhu cuaca di Kota Medan lebih

panas dari biasanya. Pertama, suhu muka laut di perairan Selat Malaka dan Samudra Hindia

Barat yang masih cukup hangat, yakni berkisar 30-31 derajat celsius, di mana posisi matahari

tepat berada di Utara ekuator. Kedua, kata Eridawati, dari faktor skala regional, angin barat

masih cukup kuat untuk melewati wilayah Sumut. Angin tersebut berasal dari Benua

Australia yang bersifat kering. Lalu, ketiga, kondisi udara atas kelembapan udara pada

lapisan850-500 mb berkisar 28-88 persen.

"Hal ini menyebabkan kurangnya pertumbuhan awan untuk wilayah Kota Medan dan

sekitarnya, di mana kelembapan udara yang cukup kering dan tidak adanya pertumbuhan

awan mengakibatnya sinar matahari langsung masuk ke permukaan bumi, sehingga kondisi

udara cukup panas," jelasnya.

Dari hasil penelitian kami menemukan bahwasannya para responden sudah sangat resah akan

cuaca panas yang melanda saat ini. Beberapa dari responden kami mengatakan bahwasannya

hal yang paling dirasakan dari cuaca panas ini adalah kulit yang menjadi kering dan gelap

hingga menurunnya kesehatan para responden.


Komentar